MTN_ACEH TAMIANG – Di balik kerja keras tim relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) dalam merespons bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera, terdapat satu divisi yang perannya kerap tak terlihat namun sangat vital, yakni divisi dapur atau logistik konsumsi. Divisi inilah yang memastikan seluruh relawan tetap kuat dan siap menjalankan tugas kemanusiaan di lapangan, di samping divisi lain yang juga cukup menunjang kelancaran misi kemanusiaan.
Sejumlah ummahat (ibu-ibu) yang tergabung dalam UAR Muslimat, di antaranya Umi Sholihat, Umi Amanah Sriwigati, Umi Yanti Lestari, Umi Syamsidar, dan Umi Iis dibantu Riyan, menjadi penggerak utama dapur kemanusiaan Ukhuwah Al-Fatah Rescue. Selama sebulan terakhir, mereka bekerja tanpa kenal lelah dalam menunjang kelancaran amal shalih tim relawan UAR, khususnya di wilayah Aceh Tamiang.
“Kami masak tiga kali sehari. Pagi mulai pukul 05.00 sampai 06.30 WIB, siang dari 09.30 sampai pukul 11.30 WIB. Sedangkan untuk makan malam sekitar 60 orang dimulai pukul 16.30 sampai pukul 18.00 WIB. Alhamdulilah semoga berkah,” kata Umi Yanti dalam keterangannya, Sabtu 31 Januari 2026.
Peran UAR Muslimat tidak hanya dimulai saat tiba di lokasi bencana. Sejak dalam perjalanan menuju Sumatera menggunakan kapal, para relawan dapur sudah beramal sholih menyiapkan konsumsi untuk seluruh tim UAR bahkan anak buah kapal (ABK) serta relawan lain yang satu perjalanan. Setibanya di wilayah terdampak, mereka kembali berjibaku di dapur umum yang didirikan UAR untuk memenuhi kebutuhan makan sehar-hari relawan yang kadang mencapai ratusan orang.
Menjelang Tabligh Akbar Penutupan Misi Kemanusiaan UAR yang dijadwalkan berlangsung pada 1 Februari 2026 di Masjid Darul Mukhlisin, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, aktivitas dapur semakin padat. Para petugas dapur disibukkan dengan persiapan konsumsi berupa snack dan makan siang yang akan disajikan kepada jamaah dan tamu yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Meski dihadapkan pada keterbatasan dan kelelahan fisik, namun semangat UAR Muslimat tak pernah surut. Mereka terus bergerak menjalankan tugas kemanusiaan sebagai bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan niat lillah menolong sesama yang tengah tertimpa musibah.
Misi kemanusiaan UAR sendiri mencakup wilayah terdampak bencana di tiga provinsi, yakni Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Di setiap titik misi, dapur kemanusiaan menjadi denyut nadi yang menjaga keberlangsungan seluruh operasi relawan.
Keteladanan para relawan dapur UAR Muslimat menunjukkan bahwa perjuangan kemanusiaan tidak selalu berada di garis depan bencana, namun juga hadir dalam keikhlasan menyiapkan nutrisi makanan, menguatkan fisik, dan menjaga semangat para pejuang kemanusiaan di lapangan.
[Al Mujahid]
Editor : Ayudi





