MTN_Ketapang, Kalimantan Barat — Hari Buruh hadir setiap tahun sebagai pengingat akan martabat kerja-tentang keringat yang layak dihargai, tentang tenaga yang semestinya dilindungi, dan tentang kehidupan yang diperjuangkan melalui jerih payah. Senin, (04/05/2026)
Ia bukan sekadar peringatan historis, melainkan panggilan nurani untuk menempatkan manusia sebagai pusat dari setiap aktivitas ekonomi.
Dalam suasana itu, kerja dipahami bukan hanya sebagai aktivitas fisik, tetapi juga sebagai ekspresi tanggung jawab sosial.
Setiap tangan yang bekerja, sejatinya sedang meneguhkan peran dalam membangun kehidupan bersama.
Di sinilah Hari Buruh menemukan maknanya yang paling dalam : penghormatan terhadap kontribusi manusia.
Namun, perkembangan zaman menghadirkan bentuk-bentuk kerja yang semakin beragam. Tidak semua kerja berada dalam ruang formal dengan upah dan kontrak.
Ada pula kerja yang lahir dari keikhlasan — yang tidak terikat oleh sistem, tetapi tetap memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Menyikapi permasalahan ini Beni Hardian, Sp (50) warga Ketapang,
ditengah upaya pemenuhan kebersihan sampah masyarakat di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, melalui relawan kebersihan, hadir sosok-sosok relawan yang bekerja dari pagi hingga larut malam.

Mereka merasa bertanggung jawab penuh atas kebersihan lingkungan permukiman dan tengah kota.
Meskipun imbalan yang diterima tidak sesuai, yang mereka lakukan bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan wujud nyata kepedulian sosial, ujarnya Beni Hardian.
Ia juga menambahkan, Relawan kebersihan sampah menjadi cermin bahwa kerja tidak selalu diukur dari upah. Ada dimensi lain yang lebih sunyi namun kuat, yakni pengabdian. Di titik ini, kerja menjelma menjadi panggilan hati.
Namun demikian, penting untuk memahami bahwa relawan dan pekerja formal berada dalam dua ranah yang berbeda.
Relawan bergerak atas dasar sukarela, sementara pekerja memiliki hak yang melekat dalam sistem ketenagakerjaan.
Menjaga Keseimbangan : Antara Hak dan Ketulusan
Mengaitkan Hari Buruh (Mey Day) 1 Mey 2026 lalu, dengan relawan kebersihan sampah adalah langkah reflektif yang bijak, selama tidak mengaburkan batas antara hak dan pengabdian. Relawan patut dihormati, tetapi pekerja juga harus dilindungi.
Ada kekhawatiran yang perlu dijaga bersama : jangan sampai semangat kerelawanan justru menggantikan peran pekerja yang seharusnya mendapatkan upah dan perlindungan.
Jika pekerjaan memiliki beban tetap dan tanggung jawab besar, maka keadilan menuntut adanya sistem yang layak.
Di sinilah kebijaksanaan diperlukan. Relawan seharusnya menjadi penguat nilai gotong royong, bukan menjadi solusi permanen bagi kebutuhan tenaga kerja struktural.
Keduanya harus berjalan berdampingan, saling melengkapi, tanpa saling menggantikan.
Hari Buruh dapat menjadi momentum untuk menegaskan keseimbangan ini. Bahwa dalam setiap kerja, ada nilai yang harus dijaga – baik itu hak pekerja maupun ketulusan relawan.
Menyulam Simpati dalam Kebersamaan
Pada akhirnya, baik pekerja maupun relawan, keduanya berkontribusi dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Perbedaan di antara mereka bukanlah jurang pemisah, melainkan warna dalam satu lukisan besar tentang kemanusiaan.
Hari Buruh, dengan segala maknanya, mengajak kita untuk tidak hanya melihat kerja dari sisi ekonomi, tetapi juga dari sisi kemanusiaan. Bahwa setiap kontribusi, sekecil apa pun, memiliki arti.
Maka, dalam keteduhan refleksi ini, kita diajak untuk menghargai setiap peran – tanpa membandingkan, tanpa merendahkan.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan hanya bagaimana seseorang bekerja, tetapi untuk siapa dan demi apa kerja itu dilakukan, tutur Beni Hardian mengakhiri.
(Evi Zulkipli)
Editor : Ellwia





