MTN_ACEH TAMIANG – Pascabencana banjir bandang dan tanah longsor, kebutuhan warga Aceh Tamiang tidak berhenti pada bantuan pangan dan logistik. Sabtu, (10/01/2026).

Di balik puing-puing rumah dan aktivitas pemulihan yang berat, persoalan kesehatan fisik dan mental justru menjadi tantangan serius yang membutuhkan perhatian berkelanjutan. Di titik inilah layanan kesehatan Tim Relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) hadir dan menjadi kebutuhan mendesak bagi para penyintas.

Sejak pengiriman relawan gelombang pertama hingga ketiga, UAR secara konsisten menyertakan tim kesehatan dalam misi kemanusiaannya. Pendekatan yang digunakan berbasis thibbun nabawi dan terapi pemulihan, meliputi bekam, totok punggung (topung), pijat refleksi, fashdu, akupuntur, hingga ruqiyah. Layanan ini diberikan secara gratis bagi warga muslimin dan muslimat yang terdampak bencana.

Hampir setiap hari, warga mendatangi Posko UAR di Paya Bedi dan wilayah sekitarnya. Mereka datang dengan keluhan yang beragam: tubuh pegal akibat kerja berat, kelelahan berkepanjangan, hingga stres dan gangguan psikis pascabencana.

“Kondisi warga rata-rata kelelahan dan stres. Dalam sehari bisa puluhan orang datang untuk mendapatkan terapi kesehatan. Termasuk relawan juga ada yang minta dibekam ketika pulang dari amal sholih. Layanan kesehatan memang sangat dibutuhkan di lapangan,” ungkap Arifin, terapis UAR asal Jabodetabek.

Kesaksian warga menjadi bukti konkret dampak layanan tersebut. Rajudin, warga Paya Bedi, mengaku mengalami perubahan signifikan setelah mendapatkan terapi bekam.

“Alhamdulillah badan terasa ringan. Kaki yang tadinya sulit digerakkan sekarang sudah normal kembali, punggung sudah tidak keras lagi. Terima kasih kepada tim kesehatan UAR dan para donatur yang telah membantu kami,” ujarnya.

Saat ini, layanan kesehatan di Posko UAR Aceh Tamiang dijalankan oleh Arifin, Musliman, Umi Istiqomah, dan Umi Hilmi. Dengan keterbatasan sumber daya, mereka melayani warga setiap hari, bahkan hingga sore dan malam, demi memastikan tidak ada penyintas yang terabaikan.

Di sisi lain, tim kesehatan UAR juga menjalankan sistem pelaporan harian sebagai bentuk akuntabilitas dan evaluasi program. Laporan tersebut disampaikan kepada Ketua Tim UAR di Aceh serta pengurus pusat UAR untuk memastikan program berjalan efektif dan tepat sasaran.

Banyaknya warga yang mengakses layanan ini menjadi cermin bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan dukungan lintas sektor. Layanan kesehatan bukan hanya soal penyembuhan fisik, tetapi juga pemulihan mental dan penguatan spiritual masyarakat terdampak.

Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) melalui program kesehatan ini mengajak seluruh elemen masyarakat, dermawan, dan pemangku kebijakan untuk turut mengambil peran dalam memastikan layanan kesehatan bagi penyintas bencana dapat terus berjalan.

Sebagai bagian dari advokasi keberlanjutan, pengurus pusat UAR juga merencanakan pelatihan bekam bagi warga Aceh pada akhir Januari 2026, sebagai upaya transfer keterampilan dan penguatan kemandirian kesehatan masyarakat sebelum misi kemanusiaan UAR di Sumatera berakhir.

[Al Mujahid]

Editor : Naurah