MTN_ACEH TAMIANG – Program Buka Puasa Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) bersama masyarakat Aceh yang digelar di wilayah terdampak bencana Aceh kian marak dan menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat setelah Tim Dai Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi Bogor turut hadir dan beramal sholih sejak 23 Februari 2026.
Sebanyak empat dai, yakni Widi Kusnadi, Muhammad Ridwan, Irwan Amrullah, dan Abdurrasyid, tiba di Aceh Tamiang pada Senin (23/2) malam bersama tim kesehatan UAR. Mereka menyusul dua belas personel relawan yang lebih dahulu berada di lokasi untuk menyiapkan program iftar (buka puasa) dan sahur bersama masyarakat Aceh Tamiang dan Takengon.
Mengawali Program Buka Puasa Bersama Masyarakat Aceh bertajuk “Eratkan Ukhuwah, Kuatkan Iman, Raih Keberkahan Ramadhan” sejak Sabtu 21 Februari, tim relawan UAR telah mengoperasikan dapur umum guna menyediakan sekitar 400 paket buka puasa dan sahur setiap hari bagi warga terdampak banjir bandang dan tanah longsor.
“Menu yang kami siapkan sederhana namun bergizi, terdiri atas kurma, lontong, nasi, telur rebus, soto, bakwan, kerupuk, serta buah,” ungkap pembina UAR Wilayah Sumatera Utara dan Aceh, Rustam Efendi Hasibuan, saat meninjau dapur umum (DU) UAR di Maunasah Asy-Syura Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang.
Maunasah Asy-Syura, Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru merupakan salah satu tempat ibadah yang dilanda banjir bandang November lalu. Pascabencana sarana ibadah tersebut dibersihkan para relawan UAR pada misi kemanusiaan tahap pertama (30 November 2025 – 31 Januari 2026) dari endapan lumpur, sehingga hingga dapat kembali berfungsi sebagai tempat ibadah sekaligus pusat aktivitas sosial kemasyarakatan.
“Alhamdulillah, selain kembali dapat digunakan untuk shalat dan taklim, kini maunasah juga menjadi sentral memasak iftar dan sahur bagi warga. Proses memasak dilakukan bersama ibu-ibu setempat dan relawan UAR,” ujar Rustam Efendi.
Untuk memperluas jangkauan pelayanan, Tim UAR yang dipimpin Edi Wahyudi juga membuka dapur umum kedua di Takengon, Aceh Tengah. Sejak Selasa (24/2), tujuh personel telah bersiaga di lokasi guna mempersiapkan distribusi makanan bagi masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November 2025.
Sementara itu Tim kesehatan UAR yang terdiri dari Rajiun, Arifin, Sutisna, dan Anwar memberikan layanan bekam, fashdu, totok punggung, serta pijat refleksi kepada warga Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru. Layanan ini mendapat sambutan hangat masyarakat yang mengeluhkan pegal-pegal, asam urat, dan gangguan kesehatan ringan pascabencana.
Ketua tim terapis, Rajiun, menyebutkan sejumlah tokoh masyarakat turut memanfaatkan layanan tersebut, di antaranya Kepala Desa Tanjung Karang (Angga), Sekretaris Desa, Pimpinan Pondok Pesantren Darul Mukhlisin (Mulkana), serta kepala SMP Darul Mukhlisin Tanjung Karang, Aceh Tamiang.
“Mereka mengeluhkan berbagai kondisi seperti pegel-pegel, asam urat tinggi, dan lain-lain,” ujar Rajiun dalam laporannya, Rabu malam (25/2/2026)
Tim Dai Al-Fatah
Suasana Ramadan di lokasi bencana semakin semarak dengan kehadiran Tim Dai Al-Fatah. Mereka mengisi ceramah ba’da Subuh bergantian dengan relawan UAR, memberikan bimbingan ibadah, pembelajaran Al-Qur’an, serta motivasi keagamaan bagi masyarakat umum dan kalangan santri.
Koordinator Tim Safari Dakwah, Nur Abdillah, menyampaikan para dai akan bertugas selama 10 hari di Tanjung Pura, Aceh Tamiang, dan Takengon, Aceh Tengah. Sementara ini para dai melaksanakan tugas di Maunasah Asy-Syura Tanjung Karang serta Pondok Pesantren Darul Mukhlisin, Karang Baru yang sebelumnya juga menjadi lokasi kegiatan relawan pada misi kemanusiaan tahap pertama.
Selain itu, menurut Nur Abdillah, dua dai yakni Muhammad Ridwan dan Abdurrasyid beramal sholih di Markas Tanjung Pura, Kabupaten Lahat, Sumatera Utara dan sekitarnya. Sementara Irwan Amrullah mendapat tugas di Markas Kekening, Desa Simpang Jernih, Aceh Timur.
“Kemungkinan pengiriman dai tahap kedua ke Tanjung Pura atau Aceh batal, karena dai yang bersangkutan sudah beramal sholih di wilayah lain,” ujarnya.
Rencananya, para da’i yang sedang bertugas di Sumatera Utara dan Aceh akan diroling tugas sebelum masa amal sholih berakhir. “Saya menyarankan tiga hari sebelum masa tugas berakhir, para dai diroling tugasnya supaya mendapatkan pengalaman yang lebih luas,” ujar Pembina Pondok Pesantren Al-Fatah Tanjung Pura, Dr. Abdul Qadir Munir, Jum’at (27/2/2026).
Mengisi bulan Ramadan 1447 H ini, puluhan Dai Al-Fatah dikirim ke berbagai wilayah di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Ternate, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Selama 20 hari sejak awal Ramadan para Dai memberikan tuntunan ibadah, pendidikan,. pembinaa sosial dan kemasyarakatan, amar ma’ruf nahyi munkar.
Panitia Safari Dakwah Ramadan mengharapkan dukungan berbagai pihak guna terlaksananya program peningkatan amaliyah ini dengan lancar dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia.
[AM]





