BREAKINGNEWS-II-MTN
BANJARNEGARA — Dieng Culture Festival (DCF) tidak sekadar diarahkan menjadi agenda seni dan budaya. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara ingin festival yang memasuki penyelenggaraan ke-16 itu memberikan manfaat yang kembali dirasakan masyarakat.
Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana mengatakan, DCF menjadi ruang kolaborasi antara sektor kebudayaan, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
“Tujuan akhirnya adalah bagaimana nilai-nilai kebudayaan ini berasal dari masyarakat dan manfaatnya kembali sepenuhnya untuk kesejahteraan masyarakat. Kami berharap DCF terus membenahi diri agar selalu menjadi event unggulan yang dinantikan wisatawan,” tutur Amalia.
Perjalanan DCF selama 16 tahun juga membuahkan capaian di tingkat nasional. Festival tersebut masuk dalam jajaran 10 Besar Karisma Event Nusantara (Top 10 KEN).
“Perjalanan 16 tahun ini bukan waktu yang singkat. Terpilihnya DCF dalam Top 10 KEN membuktikan bahwa event ini memiliki posisi strategis dalam agenda pariwisata nasional,” tutur Amalia.
Penguatan DCF turut mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan. Pemerintah pusat dan Pemkab Banjarnegara memperkuat sinergi untuk mengembangkan festival tersebut, termasuk dari sisi warisan budaya dan ekonomi kreatif.
Direktur Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan Agus Widiatmoko mengapresiasi konsistensi ekosistem penyelenggara DCF yang melibatkan pemerintah daerah, komunitas lokal, seniman, tokoh adat, hingga pelaku budaya.
Kementerian Kebudayaan siap memfasilitasi pengembangan event ini ke depan, baik dari sisi penguatan kapasitas maupun dukungan anggaran.
“Kami tidak hanya fokus pada atraksi seni di atas panggung. Penguatan kapasitas pelaku festival, kurasi UMKM pangan lokal, hingga kebersihan dan hospitality pelaku ekonomi kreatif akan kita tingkatkan.
Pangan lokal di Dieng memiliki nilai gastronomi tinggi karena menyimpan sejarah dan cerita di balik pembuatannya,” ujar Agus usai pembukaan DCF ke-16 di Kompleks Candi Arjuna, Dieng, Jumat (28/8/2026).
Selain warisan budaya takbenda, Kementerian Kebudayaan bersama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah juga memfokuskan pemugaran warisan budaya bendawi di kawasan Candi Dieng.
Setelah pemugaran Candi Semar diselesaikan tahun ini, agenda berikutnya mencakup pemugaran pagar candi serta ekskavasi kawasan secara masif (rapid excavation) untuk menemukan struktur maupun artefak sejarah yang masih tertimbun.
“Integrasi antara pemugaran cagar budaya dan penguatan warisan budaya takbenda ini akan membentuk historical trip yang mampu mengangkat potensi Banjarnegara ke tingkat pariwisata internasional,” tambah Agus.
(K.Sutrisno)





