BREAKING-NEWS-II-MTN

BOGOR – Mendaki gunung atau bukit tidak hanya menjadi aktivitas olahraga dan rekreasi. Bagi sebagian orang, kegiatan tersebut juga menjadi sarana menyegarkan pikiran, mempererat kebersamaan (ukhuwah), sekaligus mentadaburi keindahan alam ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semangat itulah yang dilakukan 10 orang syubban (pemuda) Komplek Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, saat menggelar rihlah dengan mendaki Bukit Paniisan (Wisata Alam), kawasan Gunung Pancar, Desa Bojong Koneng / Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (25/07/2026).

Rombongan yang juga diikuti anak-anak tersebut memulai pendakian sekitar pukul 07.30 WIB melalui jalur Gunung Pancar. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam via Wangun, seluruh peserta berhasil mencapai puncak Bukit Paniisan yang berada di ketinggian 846 meter di atas permukaan laut (mdpl) sekitar pukul 09.00 WIB.

“Alhamdulillah setelah istirahat beberapa kali di pos perjalanan, seluruh rekan berhasil mencapai puncak dengan selamat. Beberapa di antara kami merasakan sedikit pegal, terutama di bagian betis dan lutut,” ujar Nur Abdillah, pemimpin rombongan sesaat setelah mencapai puncak.

Rauf, salah seorang peserta rihlah asal Nigeria yang tengah menempuh pendidikan STAI Al-Fatah Bogor, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Ia mengatakan, aktivitas mendaki bukan hal yang asing baginya karena sudah terbiasa melakukannya di negara asalnya.

“Saya merasa senang bisa ikut mendaki bukit Paniisan. Alhamdulillah, saya kuat karena sudah terbiasa mendaki di negara saya,” tuturnya saat istirahat di puncak ketinggian bukit.

Bukit Paniisan merupakan salah satu destinasi wisata alam dan olahraga yang cukup diminati masyarakat. Berdasarkan informasi pengelola, jumlah pendaki pada hari biasa rata-rata sekitar 50 orang. Sementara pada akhir pekan, jumlahnya dapat mencapai sekitar 300 orang.

“Kalau hari biasa, selain Sabtu dan Minggu, biasanya sekitar 50 orang. Namun, pada akhir pekan jumlah wisatawan pendaki bisa mencapai sekitar 300 orang,” kata Iqbal saat ditemui di loket pembayaran tiket pendaki.

Menurut dia, para pendaki tidak hanya berasal dari wilayah Bogor, tetapi juga dari Bandung, Jakarta, Banten, Semarang, dan daerah lain di luar Jawa Barat. Destinasi pendakian bukit yang beroperasi sejak 2023 itu dikelola oleh masyarakat setempat bekerja sama dengan pihak Sentul City. Dibuka untuk para wisatawan mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB.

Untuk melakukan pendakian, setiap pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp.10.000 hingga Rp 20.000 per orang, tergantung jalur pos retribusi seperti via Gunung Pancar atau Wangun. Selain itu, pendaki juga dapat menyewa tongkat dengan tarif Rp10.000 per tongkat di area parkir kendaraan.

Kawasan tersebut juga memiliki sejumlah destinasi pendakian lainnya dengan jarak dan ketinggian yang berbeda, di antaranya Bukit Sanema sejauh 1,5 kilometer, Bukit Pasir Pete 2 kilometer, Bukit Paniisan 2,5 kilometer, Bukit Palasari 2,7 kilometer.

Kemudian Bukit Daolong 3 kilometer, Bukit Pasir Ceri 3,2 kilometer, Bukit Pasir Teh 3,5 kilometer, Bukit Pasir Kumis 4 kilometer, Pasir Datar Hamerang 5 kilometer, Pondok Pemburu 5,2 kilometer, hingga Dusun Cisadon sejauh 8 kilometer, bukit paling tinggi (1.100 mdpl).

Nur Abdillah menjelaskan, kegiatan rihlah tersebut merupakan aktivitas selingan bagi para syubban (punggawa maktab) untuk menjaga kebugaran tubuh, menghilangkan kepenatan, sekaligus mempererat ukhuwah.

“Ini kegiatan selingan bersama rekan-rekan untuk berolahraga dan menghilangkan kepenatan atau refreshing. Sekaligus juga mentadaburi keindahan alam ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” katanya.

Setelah menikmati suasana puncak dan keindahan alam sekitar, rombongan mulai turun sekitar pukul 11.00 WIB. Seluruh peserta yang menggunakan transportasi dua mobil kemudian kembali ke Cileungsi, Bogor.

[Al Mujahid]