BREAKING-NEWS-II-MTN

BOGOR – Program santunan makan bagi para pengungsi warga negara asing (WNA) yang bertahan di sekitar Kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) Jakarta Selatan akan terus dilaksanakan selama satu bulan oleh relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) secara bergiliran.

Pembina UAR Pusat, Drs. Asep Faturahman, menegaskan bahwa program kemanusiaan tersebut merupakan hasil musyawarah bersama Pembina Utama dan jajaran pengurus UAR sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama manusia yang sedang menghadapi kesulitan hidup.

“Berdasarkan musyawarah bersama, program santunan makan bagi para pengungsi di kompleks UNHCR Jakarta Selatan akan dilaksanakan selama satu bulan. Pelaksanaannya dilakukan secara bergantian oleh relawan UAR Korwil Jabodetabek Banten dan Markas Cileungsi sebagai wujud kepedulian terhadap sesama,” ujar Asep Faturahman di Bogor, Rabu (29/07/2026).

Menurut Asep, bantuan tersebut mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi para pengungsi. Namun, setidaknya dapat meringankan beban mereka sekaligus menjadi pengingat bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang memiliki kepedulian terhadap sesama tanpa memandang asal negara, suku, maupun agama.

“Kami berharap bantuan sederhana ini dapat memberikan manfaat bagi mereka, sekaligus menjadi amal kebajikan bagi seluruh relawan dan para donatur yang telah ikut mendukung program ini,” tambah Asep Faturahman yang juga Amir Majelis Ukhuwah Pusat Jama’ah Muslimin (Hizbullah).

Sebagai tindak lanjut program tersebut, sejak Senin (27/07/2026) giliran UAR Markas Cileungsi, Kabupaten Bogor, yang mengambil alih jadwal distribusi bantuan makan setelah sebelumnya dilaksanakan oleh relawan UAR Korwil Jabodetabek Banten selama sepekan.

Pada Selasa dan Rabu. 28 – 29 Juli 2026 sekitar pukul 18.00 WIB relawan UAR Markas Cileungsi kembali menyalurkan 30 paket nasi kotak kepada para pengungsi WNA setelah berkoordinasi dengan petugas di lokasi.

Para penerima santunan merupakan pengungsi yang berasal dari sejumlah negara, di antaranya Afghanistan, Somalia, Irak, dan Myanmar. Mereka telah cukup lama bertahan di sekitar kantor UNHCR sambil menunggu kepastian mengenai proses penanganan dan penempatan ke negara ketiga.

Kondisi mereka hingga kini masih memprihatinkan. Puluhan pengungsi tinggal di dalam tenda-tenda sederhana, bahkan beberapa di antara mereka tidur di tempat terbuka di trotoar Jalan HR Jalan Rasunasaid depan Kantor UNHCR.

Di tengah keterbatasan kebutuhan hidup, mereka harus menghadapi ketidakpastian masa depan. Pada siang hari sebagian memilih berpindah ke masjid atau tempat lain untuk menghindari penertiban, kemudian kembali ke lokasi pada malam hari untuk beristirahat.

Salah seorang relawan UAR yang bertugas di lokasi mengatakan bahwa penyantunan makan tersebut merupakan amanah kemanusiaan yang akan terus dijaga oleh seluruh relawan.

“Alhamdulillah hari ini kami kembali diberi kesempatan untuk berbagi kepada saudara-saudara kita yang sedang hidup dalam pengungsian. Semoga bantuan sederhana ini dapat meringankan beban mereka dan menjadi amal saleh bagi semua pihak yang telah berpartisipasi,” ujarnya melalui pesan singkat.

Melalui program santunan makan yang dilaksanakan secara bergilir selama satu bulan, UAR berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk memperkuat semangat solidaritas kemanusiaan serta menghadirkan kepedulian nyata bagi mereka yang sedang berada dalam kondisi darurat dan penuh ketidakpastian.

[Al Mujahid]