TribrataNusantara.co.id//Palas Sumut – Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Kabupaten Padang Lawas (Palas) merayakan hari lahir (harlah) ke-91 yang berlangsung di aula kantor kemenag palas. Sabtu, (10/05/2025)

Nazri Alwi Harahap Ketua PC GP Ansor Kabupaten Padang Lawas dalam sambutan nya, Kegiatan yang mengusung tema yang sangat relevan dan visioner “Satu Barisan Membangun Negeri.” Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan seruan moral dan strategis untuk memperkuat barisan kader dalam menjawab tantangan zaman serta mempertegas peran pemuda dalam membangun Indonesia Emas.

Di usia 91 tahun, GP Ansor bukanlah organisasi pemuda biasa. Ia adalah penjaga tradisi Islam Nusantara, pelindung nilai-nilai kebangsaan, dan agen perubahan sosial yang telah melalui berbagai ujian sejarah, mulai dari perjuangan kemerdekaan, masa-masa kelam ideologi radikal, hingga era globalisasi dan disrupsi digital. Kini, pertanyaannya adalah ke mana arah langkah GP Ansor selanjutnya?

Akar Sejarah yang Kuat GP Ansor lahir dari semangat pemuda Nahdlatul Ulama (NU) yang ingin terlibat aktif dalam perjuangan sosial, keagamaan, dan kebangsaan. Didirikan pada 24 April 1934, GP Ansor mewarisi nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang moderat, toleran, dan menghargai kearifan lokal.

Tak hanya berorientasi pada doktrin keagamaan, GP Ansor hadir sebagai kekuatan sosial yang mampu merespons isu-isu kerakyatan dengan gerakan nyata.Terang Nazri.

Dalam perjalanannya, Barisan Serbaguna (Banser), sayap semi-militer GP Ansor, menjadi simbol loyalitas, kesiapsiagaan, dan keberanian. Mereka tidak hanya menjaga keamanan dalam berbagai kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi garda depan dalam menjaga toleransi beragama dan integritas bangsa.

Banser hadir di garis depan ketika rumah-rumah ibadah minoritas diganggu, saat bencana melanda, atau ketika masyarakat membutuhkan uluran tangan.

Tema “Satu Barisan Membangun Negeri” mengandung makna mendalam. Pertama, ia menegaskan pentingnya soliditas internal organisasi. Dalam era yang ditandai oleh disrupsi informasi dan konflik identitas, GP Ansor dituntut untuk menjaga kesatuan barisan kadernya, baik dalam pemikiran, visi, maupun aksi.

Kedua, tema ini merupakan ajakan untuk menjadikan GP Ansor sebagai lokomotif gerakan pemuda nasional yang progresif. Kader-kader Ansor harus tampil sebagai problem solver, bukan sekadar pengamat.

Mereka dituntut untuk hadir di tengah-tengah masyarakat, menawarkan solusi atas problem sosial seperti kemiskinan, intoleransi, pengangguran pemuda, dan ketimpangan akses pendidikan.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Bupati Palas yang di wakili sekdakab Arpan Nasution, KTU Kemag Palas, Ketua Basnas, Kapolres, Kakan Kesbangpol, Ketua NU Palas dan Ketua Badan Silaturrahim Pesantren Padang lawas (BSPPL), H. Pauzan Hamidi Hasibuan.

Pewarta Wahyu p siregar

Editor : Naurah