MTN_BOGOR – Jama’ah Muslimin (Hizbullah) menyerukan kepada umat Islam di seluruh dunia untuk mengambil peran aktif dalam mengatasi perang saudara yang terus berkecamuk di Sudan. Konflik antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) yang telah berlangsung lebih dari dua tahun telah menimbulkan kehancuran besar, penderitaan rakyat, dan krisis kemanusiaan sangat parah.

Dalam pernyataan resmi yang diterima Senin 3 November 2025 di Bogor, Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) KH. Yakhsyallah Mansur menyampaikan keprihatinan mendalam atas tragedi kemanusiaan di Sudan. Ia menegaskan bahwa perang ini bukan sekadar konflik politik, melainkan perang saudara yang menghancurkan nilai kemanusiaan dan ukhuwah Islamiyah.

 

Menurut laporan PBB yang dikutip dalam pernyataan tersebut, lebih dari 24 juta penduduk Sudan kini mengalami kelaparan akut, sementara 13 juta lainnya terpaksa mengungsi akibat serangan bersenjata yang tak berkesudahan. Tragedi terbaru terjadi pada 29 Oktober 2025, ketika RSF melancarkan serangan ke Kota Al-Fasher, Darfour, yang menewaskan sedikitnya 1.500 warga sipil dalam waktu tiga hari dan menghancurkan fasilitas publik, termasuk rumah sakit.

 

“Sudan benar-benar tenggelam dalam bencana kemanusiaan yang dahsyat,” ujar Imaam Yakhsyallah dalam pernyataannya.

 

Jama’ah Muslimin (Hizbullah) mengutuk keras pembunuhan terhadap warga sipil yang disebut telah mengarah pada tindakan genosida. Dalam pernyataannya, Imaam Yakhsyallah mengingatkan bahwa setiap darah manusia dilindungi oleh Allah, dan siapa pun yang menumpahkannya secara batil akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

“Sesama muslim adalah saudara, tidak boleh saling menzalimi, menelantarkan, atau menghina. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya,” kutipnya dari hadits riwayat Muslim.

Selain menyerukan penghentian kekerasan, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) juga mengajak seluruh umat Islam sedunia untuk menjadi bagian dari solusi dalam penyelesaian perang saudara di Sudan. Umat Islam diminta untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan, mendorong diplomasi damai, dan menasihati pihak-pihak yang bertikai agar kembali kepada nilai-nilai Islam.

“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi,” sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang dikutip dalam pernyataan tersebut. “Cegahlah dia dari berbuat zalim, maka engkau telah menolongnya,” lanjut hadits yang diriwayat Bukhari dan Muslim itu.

Imaam Yakhsyallah juga mendorong Pemerintah Republik Indonesia agar lebih aktif mengambil peran kemanusiaan internasional, membantu rakyat Sudan keluar dari krisis, dan memperjuangkan perdamaian sesuai dengan amanat konstitusi Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa perang saudara di Sudan menjadi pelajaran pahit bagi umat Islam di seluruh dunia. Ketika agama Islam tidak dijalankan dengan benar dan digantikan oleh nafsu berkuasa, maka kehancuran dan pertumpahan darah tak bisa dihindarkan.

“Krisis di Sudan akan terselesaikan bila umat kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah,” tegas Imaam Yakhsyallah Mansur.

Sebagai penutup, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk bertaubat, memperkuat kesatuan ummat, dan bergabung dalam satu jamaah yang kokoh, demi terwujudnya kekuatan moral dan spiritual Islam yang mampu menghadirkan perdamaian sejati.

“Kami berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk kemenangan Islam dan kaum Muslimin, serta terwujudnya keadilan dan perdamaian dunia,” pungkas Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur.

Editor:Adi Sambo

[Al Mujahid]