BREAKINGNEWS-II-MTN 

Sumbawa Barat – Sejarah Kerajaan Siren Tau Tana Kamutar Telu yang berada di wilayah Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai kembali diungkap melalui penelusuran sejarah yang disertai keterangan dari pihak yang mengaku sebagai ahli waris dan keturunan langsung para penguasa kerajaan tersebut.

Keterangan tersebut disampaikan oleh Nisamol Yakin, S.Pd. (Karaeng Lempangang Sultan Abdullah) yang menyatakan dirinya merupakan keturunan langsung ahli waris Raja-raja Siren Tau Tana Kamutar Telu. Menurutnya, wilayah yang selama ini diklaim sebagai Datu Seran, termasuk objek makam yang berkaitan dengan Kesultanan Sumbawa, kini kembali ditegaskan sebagai bagian dari sejarah dan marwah Kerajaan Siren, baik secara de facto maupun de jure berdasarkan silsilah dan dokumen yang dimiliki pihak keluarga.

Jejak Awal Kerajaan dan Masuknya IMengungkap Sejarah Kerajaan Siren Tau Tana Kamutar Telu: Jejak Islam, Persaudaraan, dan Budaya di Sumbawa Barat.

Berdasarkan penuturan Nisamol Yakin, sekitar tahun 1450–1500 M, Kerajaan Siren dipimpin oleh Raden Mas Marawijaya yang bergelar Dewa Maha Raja.

Ia menjelaskan, pada tahun 1478 M, Sultan Musaffar Syah dari Kerajaan Champa mengutus Syekh Abdurrahman untuk menyebarkan ajaran Islam ke wilayah tersebut. Dalam misi dakwah itu disebutkan turut dibawa sebuah benda pusaka berupa Nekara Bintang 12 yang diyakini menjadi simbol pengenalan ajaran tauhid, syahadat, serta ilmu Tajalli dan Taraqi kepada masyarakat setempat.

Hubungan Persaudaraan dengan Kerajaan Tallo Makassar

Masih berdasarkan keterangan yang sama, pada tahun 1616 M terjadi perjalanan dakwah dari Kerajaan Tallo Makassar yang dipimpin Karaeng Matoaya Sultan Abdullah I. Dalam misi tersebut, ia mengutus putranya, Karaeng Beroanging Sultan Abdullah II, bersama Dato Ri Bandang, sejumlah ulama, serta pasukan di bawah komando Karaeng Lokmok Tumakkajanangang dengan panji Naga Mas.

Misi tersebut disebut bertujuan memperkuat penyebaran Islam di wilayah Dompo (kini Dompu), Sanggar, Tambora (kini Bima), hingga kemudian bergerak ke arah barat menuju Kerajaan Siren.

Menurut Nisamol Yakin, sempat terjadi peperangan yang berlangsung hampir satu tahun. Namun, Kerajaan Siren disebut tidak berhasil ditaklukkan karena mendapat dukungan kekuatan Manggala Majapahit Taliwang.

Ia menuturkan, penyelesaian konflik akhirnya ditempuh melalui jalan damai dengan ikatan perkawinan antara Karaeng Beroanging Sultan Abdullah II dengan Dewi Sri Cambauwa, putri Kerajaan Siren.

Peristiwa tersebut, menurutnya, melahirkan sumpah persaudaraan: “Rua Karaeng Sek’re Ata”
(Dua Raja, Satu Rakyat).

Sejak saat itu, lanjutnya, adat dan budaya Kerajaan Siren Tau Tana Kamutar Telu berjalan selaras dengan budaya Makassar yang berlandaskan prinsip:

“Adat berpegang kepada Syara’, Syara’ berpegang kepada Kitabullah.”

Filosofi Kehidupan Leluhur

Nisamol Yakin menjelaskan bahwa Lembaga Adat Siren menjunjung tinggi nilai persatuan, toleransi, serta penghormatan terhadap keberagaman agama, suku, budaya, dan ras sebagai landasan terciptanya kehidupan yang aman dan damai.

Nilai tersebut diwujudkan dalam filosofi “Tali Ontar Telu”, yang meliputi:

Taat, yakni taat kepada perintah dan ketentuan Allah SWT.

Malu, yaitu memiliki rasa malu kepada Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, dan lingkungan.

Musyawarah, sebagai dasar dalam setiap pengambilan keputusan.

Dalam pelaksanaan hukum adat dan syariat, terdapat tiga pedoman utama, yakni:

Tu Laung Seputes Boat ke Hak, yaitu setiap keputusan harus berdasarkan kebenaran dan keadilan.

Tu Laung Seputes Boat ke Sabar, yakni keputusan diambil dengan penuh kesabaran.

Tu Laung Seputes Boat ke Marhamah, yaitu setiap keputusan dilandasi kasih sayang.

Harapan Keturunan Raja Siren

Nisamol Yakin berharap sejarah Kerajaan Siren Tau Tana Kamutar Telu dapat semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai bagian dari kekayaan sejarah, budaya, dan peradaban Nusantara.

Ia juga berharap berbagai peninggalan sejarah serta nilai-nilai persaudaraan yang diwariskan para leluhur dapat terus dilestarikan dan menjadi referensi bagi generasi mendatang.Sumber : Nisamol Yakin, S.Pd., yang mengaku sebagai keturunan trah Raja Siren Tau Tana Kamutar Telu.

(Risal)

Editor : Naurah