MTN_Ketapang, Kalimantan Barat — Viral video berdurasi 00:25 detik kecelakaan tunggal kendaraan truk warna merah membawa ratusan batang kayu ilegal jenis Ulin di jalan Trans Kalimantan tepatnya depan Rumah Sakit Sandai, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Sabtu, (30/05/2026).

Akibat insiden tersebut, muatan ratusan batang kayu ilegal berhamburan hingga menutupi sebagian badan jalan trans Kalimantan, dan menyebabkan kemacetan lalu lintas di sekitar lokasi.

Berdasarkan informasi yang beredar di akun Facebook Aksaralokal.idn, lokasi kejadian, truk diduga kehilangan keseimbangan saat melintasi tanjakan sehingga akhirnya terguling di tengah jalan.

Sejumlah ratusan batang kayu ilegal jenis ulin yang diangkut langsung berserakan, dan menghalangi akses kendaraan yang melintas jalan Trans Kalimantan.

Petugas kepolisian bersama warga terlihat berada di lokasi, untuk mengatur arus lalu lintas serta melakukan proses evakuasi kendaraan dan muatan yang tumpah.

Atas kejadian tersebut, menimbulkan Kritikan tajam dari elemen masyarakat. Karena truk dan muatan ratusan batang kayu ilegal jenis Ulin tidak diamankan. Ada, apa…??? Aparat Kepolisian Sektor Sandai Polres Ketapang.

Menyikapi permasalahan warga Ketapang, Beni Hardian, Sp menuturkan bahwa pelepasan kecelakaan tunggal kendaraan truk membawa kayu ilegal di jalan trans Kalimantan ini tidak diamankan oleh Polsek Sandai Polres Ketapang, merupakan pelanggaran berat.

Semestinya anggota Kepolisian Sektor (Polsek) Sandai, berwenang untuk melakukan penahanan terhadap supir dan kendaraan truk berserta kayu tersebut. Untuk kepentingan Penyelidikan dan Penyidikan asal usul kayu tersebut, jika supir dan kendaraan truk serta muatan kayunya tidak diamankan. Ini akan menimbulkan pertanyaan masyarakat, Ada, apa..??? dengan Anggota Polsek Sandai Polres Ketapang, tegas Beni Hardian, Sp.

Hingga berita ini diterbitkan belum ada keterangan resmi dari pihak Kepolisian Sektor Sandai Polres Ketapang, terkait kecelakaan tunggal kendaraan truk membawa kayu di jalan Trans Kalimantan tepatnya depan Rumah Sakit Sandai.

(Evi Zulkipli)

Editor : Naurah