TribrataNusantara.co.id//Jayapura – Jumlah Kasus Infeksi Menular Seksual atau IMS di kota Jayapura dalam dua tahun (2022 – 2024) tercatat sebanyak 2.495 Kasus, (Data dari Dinas Kesehatan Kota Jayapura) .

Penyebabnya adalah kebiasaan berhubungan intim atau aktivitas seksual lainnya tanpa pengaman yang terus terjadi, kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura dr Ni Nyoman Sri Antari kepada tim media di ruang kerjanya, Senin, (17/03/2025).

Dikatakan lebih lanjut oleh Antari bahwa, jumlah kasus IMS itu tercatat sejak periode 2022 sebanyak 574 kasus, kemudian 2023 sebanyak 346 kasus, dan 2024 sebanyak 1.575 kasus. Ia megatakan angka IMS pada 2024 lebih tinggi sehingga perlu lebih banyak dilakukan sosialisasi terkait bahaya IMS kepada masyarakat di Kota Jayapura.

Sebelumnya pada 2022 dan 2023 kita lihat tidak begitu meningkat, tapi 2024 peningkatannya sangat drastis. Perlu banyak sosialisasi terkait hal ini kepada masyarakat, ”ujarnya.

Menurut Antari, Dinas Kesehatan Kota Jayapura sangat membutuhkan respon masyarakat untuk terlibat dalam sosialisasi yang dilakukan pihaknya, agar upaya kami tidak akan sia-sia, ”ujarnya.

Terkait capaian IMS di Kota Jayapura, kata Antari, pada 2022 tercatat mencapai 6.739, kemudian 2023 mencapai 1.288, dan 2024 mencapai 3.605. Total pada periode Tahun, 2022 – 2024 sebanyak 11.632. “Jumlah yang sangat tinggi, kami upayakan lebih maksimal tahun ini, ”ujarnya.

Capaian IMS adalah keberhasilan atau pencapaian dalam upaya pencegahan, pengendalian, dan penanganan IMS, termasuk penurunan angka kasus, peningkatan kesadaran masyarakat, dan peningkatan akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas.

Antari mengingatkan masyarakat kalangan anak muda usia produktif yang telah terlibat aktif secara seksual agar selalu menghindari kebiasaan berhubungan intim secara tidak aman.

Harus lebih menyadari pentingnya menggunakan pengaman. Berhubungan intim tanpa pengaman itu tingkat resikonya tinggi, terutama berganti-ganti pasangan. Kalangan anak muda kota ini, saya harapkan partisipasinya untuk saling mengingatkan juga, ”katanya.

Kepala Puskesmas Elly Uyo Polimak, Welem Eppang berharap temuan kasus IMS tahun ini di wilayah kerjanya lebih menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Apabila jumlah kasus IMS tercatat menurun, katanya, artinya kesadaran masyarakat sudah lebih meningkat terhadap bahaya dan penyebab IMS.

Sebenarnya naik dan menurunnya jumlah kasus IMS tahun ini nantinya menjadi warning juga. Bisa saja pasien yang terdeteksi IMS itu hanya sebagian kecil, karena mereka itu yang sadar untuk periksa, sedangkan bisa jadi juga sebagian besar belum datang periksa dan sebenarnya sudah tertular IMS. Intinya kesadaran untuk periksa diri harus ada, ujarnya.

Selajutnya ditempat yang sama dr Ni Nyoman Sri Antari juga memaparkan jumlah kasus HIV yang ada di kota Jayapura, dari 13 puskesmas di Kota Jayapura, Puskesmas Elly Uyo Polimak memiliki kasus HIV paling tinggi pada tahun 2024.

Catatan kami ada sebanyak 84 kasus HIV di Puskesmas Elly Uyo pada tahun [2024] lalu. Angka itu yang paling tinggi dari catatan sebaran kasus HIV di puskesmas lainnya,” katanya melalui pesan instan kepada  tim media lokal di Kota Jayapura pada Senin, (17/03/2025).

Sementara itu, puskesmas lainnya dengan jumlah kasus HIV berturut-turut, sebagai berikut, Puskesmas Waena (79 kasus), Puskesmas Jayapura Utara (58 kasus), Puskesmas Abepura (51 kasus), Puskesmas Imbi Kota (46 kasus), Puskesmas Yoka (45 kasus), Puskesmas Abepante (38 kasus), Puskesmas Kotaraja (37 kasus), Puskesmas Tanjung Ria (33) kasus, Puskesmas Twano (30 kasus), dan Puskesmas Emereuw dengan 29 kasus.

Selanjutnya, Puskesmas Hamadi 23 kasus, Puskesmas Koya Barat 14 kasus, Puskesmas Skow sebanyak lima kasus HIV. Jumlah kasus (HIV) terendah tahun 2024 lalu adalah yang terdata dari Puskesmas Skouw, ”katanya.

Antari mengatakan, pihaknya terus mengawasi penanganan terhadap orang dengan HIV (ODHA) pada 13 puskesmas itu, sehingga penanganan kasus ODHA di Kota Jayapura dapat terlaksanakan secara maksimal.

Pihaknya berharap, agar jumlah penanganan kasus orang dengan HIV pada tahun ini, lebih rendah.

Semoga juga kasusnya habis supaya tujuan mencapai Kota Jayapura bebas HIV bisa terwujud, ”katanya.

Ditempat terpisah saat di temui tim media di ruang kerjanya Kepala Puskesmas Elly Uyo Polimak, Welem Eppang menuturkan, tahun ini pihaknya lebih memaksimalkan kinerja petugas kesehatan dalam penanganan kasus  ODHA di wilayahnya.

Menurutnya persedian obat ARV untuk mengobati ODHA masih cukup, sehingga masyarakat yang merasa berperilaku berisiko tertular HIV harus memeriksakan kondisi kesehatan di puskesmas.

Kami berharap tahun ini jumlah pasien kami, khususnya yang memeriksa penyakit menular seperti HIV dan sejenisnya bisa lebih banyak, supaya kondisinya bisa diketahui. Kalau semakin banyak ODHA yang terdeteksi berarti jumlah kasus bisa lebih menurun di tahun-tahun yang akan datang, ”ungkapnya.

Pewarta : Vicky Ririhena

Ayudi