TribrataNusantara.co.id//Pangkajene_SulSel — Keberadaan paguyuban kelas di SMP Negeri 1 Pangkajene kembali menuai sorotan dari orang tua siswa. Meski awalnya dibentuk untuk mempererat gotong royong, praktik iuran dan pembiayaan sarana belajar dinilai kerap membebani wali murid. Sabtu, (23/08/2025).
Paguyuban kelas biasanya mengumpulkan dana sekitar Rp100.000 per siswa. Dengan jumlah 32 siswa, satu kelas dapat menghimpun hingga Rp3,2 juta. Dana tersebut digunakan untuk pengecatan dinding, perbaikan bangku, penggantian gorden, hingga dekorasi kelas.
“Bukan rahasia lagi, orang tua sering bertanya kenapa harus kita yang mengecat kelas, padahal sekolah kan ada dana BOS,” ungkap salah satu wali murid.
Lebih jauh, muncul aturan tak tertulis bahwa perbaikan dan kenyamanan ruang kelas diserahkan sepenuhnya kepada paguyuban. Beberapa orang tua bahkan menyumbang air conditioner (AC) demi kenyamanan anak-anak. Ada pula yang harus iuran untuk membeli tiga unit kipas angin dan dispenser air minum.
Meski terlihat sebagai bentuk gotong royong, praktik ini menimbulkan tanda tanya besar. Apakah benar pemeliharaan ruang kelas tidak tercakup dalam Dana BOS? Sampai sejauh mana peran orang tua boleh menggantikan kewajiban sekolah?
Orang tua berharap pihak sekolah lebih transparan mengenai penggunaan anggaran dan menegaskan kembali peran paguyuban agar tidak berubah menjadi beban tambahan.
(Red/Naurah)





