MTN_Ketapang, Kalimantan Barat — Setelah pabrik mulai melakukan uji coba produksi pada awal tahun 2016, dan sejak itu menjadi salah satu industri Pengelolaan bauksit terbesar di Kalimantan Barat. Minggu, (05/03/2026).
Akan tetapi nelayan Sungai Tenggar Desa Mekar Utama, Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Merasakan hasil laut mengalami penurunan dratis hasil tangkapan Ikan, udang, dan renjong (rajungan).
Semenjak berdirinya Pabrik pengelolaan bauksit menjadi aluminia PT. Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) dan PLTU di pesisir Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Perlu diketahui sebelum adanya industri Pengelolaan bauksit PT. WHW dan PLTU, perairan Laut Sungai Tenggar dikenal sebagai tempat surga segala jenis ekosistem laut, ikan, udang dan renjong (rajungan).
Saat ini nelayan mengeluhkan untuk mencari ikan di perairan Laut Sungai Tenggar, karena diduga sudah tercemari polusi udara dari cerobong asap debu batubara sisa pembakaran PLTU dan cerobong asap pengelolaan bauksit PT. WHW ke laut.
Dampak Emisi Asap (Udara ke Laut).
*Deposisi Logam :”Partikel logam dari asap pembakaran batubara dapat terendap ke laut, mengganggu rantai makanan, dan memengaruhi pertumbuhan fitoplankton”.
*Asam dan Suhu :”Pembakaran batubara menghasilkan sulfur dioksida (SO2), dan nitrogen oksida (NOx) yang menyebabkan hujan asam dan meningkatkan keasaman laut (acidification).
Keluhan itu muncul bukan tanpa alasan. Di sekitar kawasan industri, sebagian masyarakat justru menghadapi tantangan ekonomi yang semakin berat.
Pasalnya dusun Sungai Tengar, Desa Mekar Utama, merupakan kawasan yang berada di Ring 1 PT WHW dan PLTU. Sebagian besar warganya menggantungkan hidup sebagai nelayan.
Seperti dikutip dari salah media online, Ahmad warga Sungai Tengar, mengatakan pekerjaan melaut kini tidak lagi seperti dulu.
“Sekarang kalau melaut harus pergi lebih jauh. Kadang sudah jauh-jauh ke laut, pulang tidak dapat apa-apa,” katanya.
Cerita serupa datang dari Tosimin, nelayan lain di dusun tersebut. Ia mengaku hasil tangkapan semakin sulit sejak industri berdiri di wilayah mereka.“Sering kali kami tidak dapat tangkapan. Sejak WHW ada di sini, hasil laut makin susah,” ujarnya.
Kesulitan itu memaksa sebagian nelayan bertahan dengan cara yang tidak mudah. Banyak di antara mereka kini harus berutang demi bisa tetap melaut.
“Sekarang rata-rata nelayan punya hutang. Ada yang pinjam ke Bank Mekar, ada juga yang ke bank harian untuk biaya operasional melaut,” kata Tosimin.
Sejumlah nelayan menilai program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) selama ini lebih banyak menjadi formalitas.
Matroni, warga setempat, mengatakan masyarakat hampir tidak pernah merasakan manfaat nyata sejak perusahaan itu beroperasi.“CSR itu lebih banyak hanya di atas kertas. Kenyataannya masyarakat tidak pernah menerima apa-apa sejak WHW ada di sini,” ujarnya.
Menurut Matroni, bantuan yang diberikan perusahaan selama ini sangat terbatas dan tidak menyentuh mayoritas nelayan di kawasan tersebut.
“Kalaupun ada, hanya diberikan ke sebagian kecil kelompok atau orang tertentu. Bukan untuk seluruh nelayan yang terdampak. Selama ini nelayan di kawasan tersebut hanya sesekali menerima paket sembako saat Lebaran, itu pun hanya paket sembako. Jauh sekali dari harapan masyarakat yang hidup berdampingan langsung dengan kawasan industri besar,” pungkasnya.
Cerobong WHW terus mengepulkan debu asap sisa pembakaran ke laut. Tetapi bagi nelayan Sungai Tengar, laut yang dulu menjadi sumber kehidupan kini terasa semakin jauh sementara bagi sebagian warga, manfaat kehadiran industri besar itu masih terasa jauh dari harapan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak perusahaan PT Well Harvest Winning (WHW) Alumina Refinery.
(Evi Zulkipli)





