MTN_Ketapang, Kalimantan Barat — Kehadiran PLTU Sukabangun di Jalan Hayam Wuruk Desa Sukabangun Dalam, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, diduga menjadi biang keladi dari berkurangnya pendapatan nelayan. Jumat, (13/03/2026).

Perlu diketahui, PLTU Ketapang (PLTU Sukabangun) merupakan pembangkit batubara berkapasitas 2 X 10 MW beroperasi pada tahun 2016, kini menjadi keluhan Nelayan Sukabangun Dalam dan Nelayan Sukabangun, Kecamatan Delta Pawan.

“Proses pembakaran batubara menghasilkan emisi gas rumah kaca, partikel debu, sulfur dioksida, nitrogen oksida yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Dampak Emisi Asap (Udara ke Laut).

“Deposisi Logam : Partikel dari asap pembakaran batubara dapat terendap ke laut, mengganggu rantai makanan, dan memengaruhi pertumbuhan fitoplankton”.

Hingga nelayan kini baru merasakan perubahan semenjak beroperasinya PLTU Ketapang. Hasil tangkapan seperti, udang, ikan, dan kerang ale-ale turun dratis.

Beberapa elemen masyarakat nelayan menyampaikan sebelum, adanya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ketapang. Sepanjang perairan Laut Sukabangun adalah surganya segala jenis hasil laut.

Dampak polusi udara cerobong asap limbah pembakaran batubara PLTU Ketapang, diduga mencemari laut, menimbulkan nelayan kerang ale-ale harus kehilangan mata pencarian. Kerang ale-ale adalah simbul Kabupaten Ketapang, kini telah musnah.

Menanggapi permasalahan ini menimbulkan kritikan dari elemen masyarakat nelayan. Sejak PLTU Ketapang, berdiri, penghasilan nelayan semakin berkurang. Ikan, udang, dan ale-ale menghilang entah kemana.

Menurut, H nelayan warga Sukabangun, kehadiran PLTU di Ketapang, bukan membuat kehidupan nelayan semakin baik, sebaliknya malah menyengsarakan. tidak hanya sejenis ikan, udang, dan kerang ale-ale hasil sungai lainnya yang menghilang, tetapi juga lingkungan sekitar sepertinya ikut terdampak akibat asap pembakaran limbah batubara.

“Ini sungguh menyedihkan. Dulu harapan kami kehadiran PLTU Ketapang, dapat mengubah kehidupan nelayan menjadi lebih baik, tapi yang terjadi malah sebaliknya,” ujarnya.

H mengaku tidak asal bicara, namun mengalami sendiri bagaimana susahnya mencari kehidupan di laut saat ini. “Saya mengalaminya sendiri.

Selama ini, H yang merupakan nelayan Sukabangun juga belum merasakan dampak langsung dari kehadiran PLTU Ketapang.

“Kami tak pernah diberi pembinaan apalagi bantuan alat tangkap ikan atau udang untuk meningkatkan pendapatan nelayan. Mereka (PLTU Ketapang) sepertinya tidak perduli dengan kami para nelayan,” tutur H.

Bahkan elemen masyarakat, mempertanyakan ini PLTU Ketapang, adalah perusahaan negara. Ironisnya semenjak beroperasi tidak memiliki Pos Poliklinik Kesehatan, dan kendaraan mobil ambulance.

Karena sebelumnya pihak PLTU Ketapang, akan menyediakan fasilitas kesehatan untuk warga Desa Sukabangun Dalam, seperti Poliklinik setiap warga dapat memeriksa kesehatan secara gratis.

Namun janji tersebut, sudah sepuluh tahun beroperasi PLTU Ketapang, tidak terlaksana termasuk air bersih diabaikan oleh pihak manajemen PLTU Ketapang.

“Jika itu benar, sebaiknya PLTU Ketapang, segera melakukan tindakan penanganan kesehatan warga, termasuk yang disampaikan para nelayan yang mengeluhkan pendapatannya semakin berkurang tentu tidak bisa dianggap sebelah mata.

(Evi Zulkipli)